4 Januari 2015

Mengenal wajah baru alun-alun Bandung

Tepat pada tanggal 31 Desember 2014, Walikota Bandung meresmikan Alun-alun Bandung dengan dengan wajah baru yang langsung membuat warga Bandung senang dan menjadikannya tempat hiburan baru di tengah kota. Dengan latar belakang sebagai arsitektur, Ridwan Kamil berhasil menata kembali alun-alun Bandung dan mengembalikannya ke fungsi utama sebagai ruang publik.


Penanda Alun-alun Bandung sekaligus halte bis

Sebagai inti pusat kota, alun-alun mempunyai fungsi utama sebagai pusat kegiatan masyarakat. Mundur kebelakang disaat Kota Bandung masih dalam penguasaan Belanda, umumnya di kota-kota besar yang dilewati Jalan Raya Pos buatan Daendels, bangunan pendopo Kabupaten selalu menghadap ke jalan tersebut. Begitupula jalan dalam kota selalu berpotongan tegak lurus dengn "Grote Postweg" sehingga menyerupai susunan duri ikan. Alun-alun Bandung dahulu yang merupakan "jantung" kehidupan masyarakat kota tradisional memiliki ciri khas, yaitu deretan pohon beringin memagari keempat sisinya yang melambangkan pengayoman raja atau pemerintah terhadap seluruh wilayah kekuasannya.

Rumput sintetis yang dijadikan arena bermain dan berkumpul warga Bandung

Berdasarkan penuturan "kuncen Bandung" Haryoto Kunto dalam buku "Semerbak bunga di Bandung raya", Alun-alun Bandung  dijadikan sebagai "pentas publik" yang menyajikan nuansa kehidupan masyarakat. Tempat untuk beristirahat, menghibur diri dan tempat berkumpul bagi warga Bandung serta tentu saja tempat paporit untuk pacaran (teu tiasa nyebut 'F').  Terima kasih kepada bapak Ridwan Kamil, sebagai walikota Bandung yang berhasil mengembalikan wajah alun-alun yang dahulu kumuh dan tidak sesuai fungsinya kembali menjadi "dirinya sendiri".

Arena bermain anak

Karena sudah lama tidak menulis, jadi agak "kehilangan sentuhan keyboard". Pokoknya senang sekali kini Bandung mulai berbenah dan bersolek agar terus meningkatkan index happiness bagi warganya, nuhun Kang Emil ....

Foto : nu pribados

20 Oktober 2014

Sejarah Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung

Pada 1921 enam biarawati yakni Suster Gaudentia Brand, Judith de Laat, Ludolpha de Groot, Ambrosine dan Liobaa menempuh perjalanan sejauh 12.000 km dari Belanda menuju Bandung. Mereka datang setelah misionaris Katolik di Jawa mengeluhkan minimnya fasilitas dan pelayanan kesehatan yang ada di tanah jajahan Belanda. Keenam biarawati yang tergabung dalam Suster-suster Cinta Kasih Santo Borromeus itu pun diutus kongregansinya untuk datang ke Hindia Belanda dengan membawa misi meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Bangunan lama R.S. Borromeus (Sumber : sepanjangjk.wordpress.com)
Dalam menjalankan tugasnya, keenam biarawati tersebut menempati sebuah bangunan bekas Poliklinik Insulinde di Dagoweg (Jl. Ir H Djuanda). Meskipun bekas poliklinik ketika pertama kali ditempati, bangunan milik dr Merz itu sudah kosong melompong, nyaris tidak ada peralatan medis dan perabot lainnya. Namun kondisi tersebut tak menggoyahkan semangat para biarawati untuk mengabdi di bidang kesehatan masyarakat. Kegiatan sosial yang mereka rintis akhirnya berhasil hingga menjadi salah satu rumah sakit terbesar di Bandung, Rumah Sakit Santo Borromeus.

Selang satu bulan setelah kedatangan enam biarawati, RS Borromeus mulai dibuka untuk umum pada 18 September 1921 dan tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai hari jadi RS Borromeus. Rumah sakit tersebut berada dibawah yayasan Santo Borromeus yang diketuai oleh dr De Groot. Selama empat tahun berjalan RS Borromeus hanya memiliki 17 tempat tidur pasien hingga akhirnya pada tahun 1925 pembangunan serta pengadaan sarana rumah sakit mulai dilakukan, diantaranya ruang jenazah, binatu, serta rontgen.

Sejak saat itu pembangunan terus berjalan. Pada tahun 1927, diresmikan gedung rawat inap Josef I, II, dan III. Sepuluh tahun kemudian ruang rawat inap kembali ditambah dan diberi nama Ruang Anna dan Maria sehingga kapasitas tepat tidur pasien meningkat menjadi 90. Selang satu tahun, didirikan biara dan asrama perawat pada tahun 1941, ruang rawat inap bagi anak-anak juga diresmikan. Ketika perang dunia kedua pecah, pembangunan RS Borromeus terhenti dan baru empat puluh tahun kemudian rumah sakit kembali diteruskan dengan perluasan dan peningkatan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Tidak diketahui secara pasti apakah keenam biarawati dari Belanda tersebut tetap di Bandung, atau lama mengabdi di RS Borromeus. Akan tetapi tiga biarawati yaitu Suster Gaudentia, Judith dan Ludolphamasih terlacak jejaknya. Mereka tercatat bertandang ke Yogyakarta pada Januari 1929, tetapi ketiganya tidak datang dari Bandung melainkan dari Belanda. Jadi kemungkinan para suster tersebut pulang daulu ke Belanda sebelum datang lagi ke Hindia, tepatnya di Yogyakarta. Kala itu, Yogyakarta sedang membangun rumah sakit dibawah yayasan Onder de Bogen. Pengurus Gereja Yogyakarta lalu meminta bantuan kepada kongres Suster Santo Borromeus yang berpusat di Maastricht, Belanda untuk mengelola rumah sakit yang kelak diberi nama RS Panti Rapih. Kemudian datanglah lima biarawati dan tiga diantaranya adalah perintis berdirinya RS Borromeus Bandung.

Saat ini Rumah Sakit Borromeus yang berada di Jalan Ir H. Djuanda no. 100 Bandung, telah berkembang pesat dengan kapasitas tampung hingga 400 pasien rawat inap dengan fasilitas peralatan medis yang modern. Walaupun demikian, bangunan lama tetap dipertahankan sebagai ikon dan ciri khas rumah sakit.


Sumber : Pikiran Rakyat
Foto : https://sepanjangjk.wordpress.com

13 Oktober 2014

Semakin dekat dengan pelanggan

Suara Sirine meraung-raung mencoba memecah kemacetan pada siang itu, dengan kecepatan penuh mobil pemadam kebakaran bergegas pergi ke lokasi kebakaran di suatu pemukiman di Bandung. Kebakaran yang terjadi pada siang hari tersebut menghanguskan belasan rumah dan menimbulkan kerugian yang besar bagi pemiliknya. Walaupun belum diketahui penyebab sebenarnya kebakaran tersebut, biasanya pihak berwenang langsung berasumsi bahwa arus pendek listrik menjadi penyebabnya. Korslet Listrik selalu dijadikan penyebab utama dalam kebakaran, padahal kita tahu faktor manusia justru lebih dominan dalam suatu musibah.

Ilustrasi kebakaran (sumber : bandung.bisnis.com )

Banyaknya kasus kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek sebenarnya bisa membuat pihak PLN lebih perhatian dengan masalah ini, menurut hemat penulis salah satu solusinya adalah PLN membuat peralatan listrik yang sesuai dengan spesifikasi dan standar keamanan atau PLN berkerja sama dengan perusahaan nasional untuk dijadikan mitra dalam memproduksi peralatan listrik yang disesuaikan dengan standar SNI dan PLN. Karena banyak dikalangan masyarakat dalam proses instalasi listrik, mereka membeli komponen listrik berdasarkan harga yang murah tanpa memperdulikan spesifikasi apakah sesuai dengan kapasitasnya atau tidak. Dalam penggunannya pun mereka tidak memperdulikan keamanan atau beban listrik terhadap komponen tersebut, yang penting ringkas dan bisa dipakai. Oleh karena itu, PLN bisa memberikan pilihan tepat kepada masyarakat tentang komponen atau peralatan listrik yang sudah disesuaikan dengan standar SNI dan spesifikasi dari PLN sehingga alat tersebut dipastikan aman untuk digunakan.

Pemukiman padat di Cihampelas Bandung (dok. Pribadi)

Selain hal tersebut di atas, edukasi terhadap para pelanggannya sangat dibutuhkan karena pengetahuan masyarakat terhadap instalasi dan penggunaan listrik sangat kurang, PLN harus lebih sering mengadakan penyuluhan yang ditambah dengan hiburan agar bisa menyedot perhatian masyarakat sehingga tujuan utama memberikan pengetahuan tentang listrik bisa sesuai harapan dan tepat sasaran. Penyuluhan sebaiknya dilakukan di tempat-tempat yang padat serta rentan terhadap bahaya kebakaran seperti di pasar-pasar atau perumahan yang padat penduduk. Selain itu bisa PLN bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu dengan memberikan jasa pemasangan instalasi listrik secara gratis sekaligus percontohan tentang penggunaan komponen yang sesuai dengan standar SNI dan spesifikasi. Hal tersebut tidak saja menambah pengetahuan terhadap listrik tetapi juga mempererat jalinan emosional dan kerjasama antara PLN dengan pelanggannya. 

Sebagai penutup, penulis mengucapkan terima kasih kepada blogdetik yang secara konsisten mengadakan lomba penulisan blog yang berkerja sama dengan pihak lain, sehingga para blogger bisa terus mengasah kemampuan dalam menulis dan memperbaharui konten blognya. Dan tentu saja kepada pihak PLN yang selama ini menerangi dan membuat dunia lebih berwarna karena tanpa listrik, tulisan ini tak mungkin ada dan perkembangan peradaban dan teknologi di Indonesia mungkin akan terus dalam kegelapan. Akhir kata selamat ulang tahun Perusahaan Listrik Negara yang ke 69 semoga terus berjaya dan menerangi semua pelosok Indonesia.



4 Oktober 2014

Toko jamu Babah Kuya

Berbicara mengenai sejarah perekonomin di Kota Bandung tak akan lepas dari peran Pecinan atau kampung Cina yang berada di sekitar Pasar Baru. Semenjak awal 1900-an didaerah ini mulai bermunculan toko dan pedagang-pedagang yang nantinya akan mendorong perkembangan pasar baru sebagai pusat pasar tradisional. Salah satunya adalah Toko jamu Babah Kuya.

Toko Jamu Babah Kuya (Sumber :Exploresunda.com )

Berdiri sejak 1800-an toko yang menyediakan ratusan rempah dan jamu hingga kini mampu bertahan melawan arus modernisasi. Ditengah kepungan ragam obat farmasi dalam maupun luar negeri, toko ini tetap setia menyediakan beraneka ragam herba secara komplet. Ada herba yang tergolong langka dan hampir punah, ada juga yang merupakan penemuan baru. Contohnya adalah daun kikolot, daun murbai, jamur kayu, red papua, kulabet, antehai, cabai jawa, sambiloto, jahe merah. Sebagian besar bahan rempah dan herba ini dijual sudah dalam keadaan kering atau digiling

Begitu memasuki toko, aroma rempah-rempah sudah menggelitik dan menyergap hidung. Puluhan tong dan toples ukuran besar berisi rempah menghiasi toko. Pengunjung yang kebingungan memilih jenis jamu yang cocok pun tak perlu kwatir. Sang pemilik, Iwan Setiadi dan para pegawainya siap memberikan konsultasi agar pengunjung bisa mendapatkan obat yang sesuai, lengkap dengan cara penyajiannya. Jadi jika anda bingung tentang obat bagi penyakit yang diderita, tinggal tanya dan konsultasi saja.

Toko jamu Babah Kuya terletak di jalan Pasar Selatan no. 33 Pasar Kota Bandung. Sebagai referensi dalam meracik obat tradisional, sang pemilik mengumpulkan berbagai buku referensi  mengenai rempah-rempah mulai dari Belanda, Korea, hingga ke negeri Cina. Oleh karena itu semua jamu yang dijajakan di toko ini sudah tercantum dalam buku referensi yang menerangkan khasiatnya. Aktifitas jual-beli rempah terlihat ramai dengan pelanggan yang kadang mengantre untuk memesan jamu. Pelangganya pun tidak saja dari dalam negeri, bahkan sampai luar negeri seperti Belanda dan keturunan Cina.

Hingga kini, Toko Jamu Babah Kuya sudah beralih dalam empat generasi. Tahun 1910 toko ini didirikan Tan Sioe How di jalan Pasar Barat. Namun, referensi lainnya menyebutkan bahwa kemungkinan toko ini sudah berdiri lebih awal yaitu 1800-an. Tan bersama dengan keluarga Achsan merupakan peritis usaha perdagangan dikawasan ini.


Sumber : Pikiran Rakyat.

30 September 2014

Taman Film Bandung

Walikota Bandung Ridwan Kamil sangat nyaah terhadap warganya, setelah membuat berbagai taman dengan tema tertentu kini warga Bandung akan bertambah kebahagiaannya dengan diresmikannya Taman Film pada minggu 14 Setember 2014. Walau sudah hampir dua minggu dibuka, penulis baru berkesempatan mengunjunginya pada saat perayaan ulang tahun Bandung sabtu lalu.

Suasana Taman Film di malam hari

Penulis datang pada malam hari jadi kurang jelas mengamati kondisi sekeliling taman tersebut, tapi berdasarkan pencarian di Google taman film mempunyai desain seperti bentuk sawah berteras lengkap dengan aluran airnya. Tempat duduk terdiri dari 7 tingkat yang mempunyai ukuran dan lingkaran yang berbeda. Dengan total luas 1.100 meter persegi, kapasitas Taman ini dapat menampung hingga 250 orang sekaligus. Terdapat sebuah layar besar megatron berukuran 4 x 8 meter.

Taman Film yang terletak di kolong Jembatan Pasteur-Surapati (Pasupati), Jalan Kebon Bibit, Kota Bandung ini memutarkan film dari jam pagi hingga menjelang tengah malam. Saat penulis kesana banyak pengunjung yang sedang menikmati film bersama teman, keluarga atau pasangannya, sedangkan di bagian bawah yang terdapat rumput sintetis banyak anak-anak yang bermain sambil berlari-lari nampaknya mereka merupakan warga sekitar taman.

Taman Film menjadi salah satu tempat baru favorit untuk menghabiskan waktu sambil menonton film yang mungkin dulu terlewat untuk disaksikan di bioskop.

25 September 2014

Selamat ulang tahun ke 204 Bandung

Tak terasa kota yang telah di tinggali penulis kini sudah bertambah usianya menjadi 204 tahun, banyak kenangan dan cerita tersimpan di ibu kota provinsi Jawa Barat ini. Bandung, kota yang dahulu dijuluki Parisj van Java kini mulai berbenah di tangan walikota Ridwan Kamil. Banyak program-program yang diluncurkan untuk bisa menata kembali suasana kota agar nyaman dan layak disebut sebagai Paris nya pulau Jawa.





Sayang semua program dan keinginan walikota untuk membenahi kota Bandung kadang tidak didukung oleh warganya sendiri, banyak program yang hanya ramai pada saat peluncurannya saja tetapi selang beberapa bulan kemudian hilang tak berbekas dan tidak dilanjutan. Harapan penulis sebagai warga tentu berharap seluruh pihak bisa saling gotong royong membenahi kota tercinta ini agar bisa nyaman dan tentram untuk ditinggali.

Selamat ulang tahun Bandung . . .

22 September 2014

Sentra jins Cihampelas

Salah satu sentra jins yang masih bertahan di Kota Bandung berada di jalan Cihampelas. Sebelumnya sentra jins ada juga dijalan Abdulrahman Saleh, jalan Pajajaran dan jalan Thamim. Tumbuhnya kawasan Cihampelas sepanjang 140 meter ke arah jembatan Cikapayang sebagai sentra jins dimulai pada 1987. Saat itu, seorang pengusaha mencoba mendirikan toko jins dan mendapat respon yang baik kemudian diikuti oleh sejumlah pengusaha lainnya.


Kawasan Cihampelas

Kawasan ini dulu diperuntukkan sebagai pemukiman orang Eropa di Bandung. Nama Cihampelas sendiri berasal dari kata ci yang berarti air dan Hampelas dari pohon yang tumbuh disisi sungai, dengan daun kasar laiknya kertas gosok ampelas.

Pada 1933, kolonial Belanda membuka Textiel Inrichtieng Bandoeng atau Institut Teknologi Tekstil yang kemudian membuat kota ini menjadi kota produk tekstil. Pada tahun 1980-an saat pemakaian produk jins di dunia berkembang, Bandung ikut memperkenalkannya dan mampu  produk sendiri. Bahkan kini merek jins Kota Bandung seperti Cardinal mampu memenuhi ekspor untuk pasar Amerika, Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Rumah-rumah gaya Belanda di kawasan Cihampelas lalu berganti menjadi deretan toko-toko yang memajang produk jins. Namun saat ini peran sentra jins mulai bergeser menjadi pusat fashion secara umum. Hal ini ditandai dengan munculnya factory outlet dan toko pakaian lain dengan merk dalam maupun luar negeri. Bahkan pada tahun 2004 muncul mal Cihampelas Walk (Ciwalk).

Perkembangan jalan Cihampelas sebagai pusat fashion memang bertahan tetapi sebagai sentra jins tidak lagi seramai dulu. Kalau dulu hampir semua toko menajajakn produk jins, kini selain factory outlet, toko kaus, tas, cendera mata, toko oleh-oleh, restoran, hotel, kafe dan berbagai kantor layanan jasa.Keadaan jalan Cihampelas semakin tidak tertata dimana banyak pedagang kaki lima banyak memanfaatkan trotoar untuk berjualan dan terbatasnya lahan parkir membuat kawasan ini sering terjadi macet terutama pada hari libur. Salah satu ciri khas kawasan sentra jins ini adalah patung-patung raksasa yang menghiasi bagian depan toko yang disesuaikan dengan nama toko tersebut. Pemilik toko menampilkan tokoh-tokoh super hero dari komik, film dan keunikan desain lain untuk membuat perbedaan dan menarik konsumen.Jins Cihampelas boleh dikatakan hasil karya anak bangsa, karena lebih banyak menjual jins dengan merk lokal seperti merk Korek api, Cardinal atau turunan jins yaitu Denim. Soal kualitas dan harga berdaing dengan produk dari luar negeri, selain toko dikawasan ini tersedia jasa pemotogan atau permak jins. Salin murah, proses pemotongan bisa ditunggu 1 sampai 2 jam dan kita bisa berjalan-jalan terlebih dahulu menikmati jalan Cihampelas sambil menunggu pengerjaannya. Ada juga toko yang menawarkan jasa penjahitan jins berdasarkan keinginan konsumen.

Sumber foto : adikrose.blogspot.com
Pikiran rakyat