13 Oktober 2014

Semakin dekat dengan pelanggan

Suara Sirine meraung-raung mencoba memecah kemacetan pada siang itu, dengan kecepatan penuh mobil pemadam kebakaran bergegas pergi ke lokasi kebakaran di suatu pemukiman di Bandung. Kebakaran yang terjadi pada siang hari tersebut menghanguskan belasan rumah dan menimbulkan kerugian yang besar bagi pemiliknya. Walaupun belum diketahui penyebab sebenarnya kebakaran tersebut, biasanya pihak berwenang langsung berasumsi bahwa arus pendek listrik menjadi penyebabnya. Korslet Listrik selalu dijadikan penyebab utama dalam kebakaran, padahal kita tahu faktor manusia justru lebih dominan dalam suatu musibah.

Ilustrasi kebakaran (sumber : bandung.bisnis.com )

Banyaknya kasus kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek sebenarnya bisa membuat pihak PLN lebih perhatian dengan masalah ini, menurut hemat penulis salah satu solusinya adalah PLN membuat peralatan listrik yang sesuai dengan spesifikasi dan standar keamanan atau PLN berkerja sama dengan perusahaan nasional untuk dijadikan mitra dalam memproduksi peralatan listrik yang disesuaikan dengan standar SNI dan PLN. Karena banyak dikalangan masyarakat dalam proses instalasi listrik, mereka membeli komponen listrik berdasarkan harga yang murah tanpa memperdulikan spesifikasi apakah sesuai dengan kapasitasnya atau tidak. Dalam penggunannya pun mereka tidak memperdulikan keamanan atau beban listrik terhadap komponen tersebut, yang penting ringkas dan bisa dipakai. Oleh karena itu, PLN bisa memberikan pilihan tepat kepada masyarakat tentang komponen atau peralatan listrik yang sudah disesuaikan dengan standar SNI dan spesifikasi dari PLN sehingga alat tersebut dipastikan aman untuk digunakan.

Pemukiman padat di Cihampelas Bandung (dok. Pribadi)

Selain hal tersebut di atas, edukasi terhadap para pelanggannya sangat dibutuhkan karena pengetahuan masyarakat terhadap instalasi dan penggunaan listrik sangat kurang, PLN harus lebih sering mengadakan penyuluhan yang ditambah dengan hiburan agar bisa menyedot perhatian masyarakat sehingga tujuan utama memberikan pengetahuan tentang listrik bisa sesuai harapan dan tepat sasaran. Penyuluhan sebaiknya dilakukan di tempat-tempat yang padat serta rentan terhadap bahaya kebakaran seperti di pasar-pasar atau perumahan yang padat penduduk. Selain itu bisa PLN bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu dengan memberikan jasa pemasangan instalasi listrik secara gratis sekaligus percontohan tentang penggunaan komponen yang sesuai dengan standar SNI dan spesifikasi. Hal tersebut tidak saja menambah pengetahuan terhadap listrik tetapi juga mempererat jalinan emosional dan kerjasama antara PLN dengan pelanggannya. 

Sebagai penutup, penulis mengucapkan terima kasih kepada blogdetik yang secara konsisten mengadakan lomba penulisan blog yang berkerja sama dengan pihak lain, sehingga para blogger bisa terus mengasah kemampuan dalam menulis dan memperbaharui konten blognya. Dan tentu saja kepada pihak PLN yang selama ini menerangi dan membuat dunia lebih berwarna karena tanpa listrik, tulisan ini tak mungkin ada dan perkembangan peradaban dan teknologi di Indonesia mungkin akan terus dalam kegelapan. Akhir kata selamat ulang tahun Perusahaan Listrik Negara yang ke 69 semoga terus berjaya dan menerangi semua pelosok Indonesia.



4 Oktober 2014

Toko jamu Babah Kuya

Berbicara mengenai sejarah perekonomin di Kota Bandung tak akan lepas dari peran Pecinan atau kampung Cina yang berada di sekitar Pasar Baru. Semenjak awal 1900-an didaerah ini mulai bermunculan toko dan pedagang-pedagang yang nantinya akan mendorong perkembangan pasar baru sebagai pusat pasar tradisional. Salah satunya adalah Toko jamu Babah Kuya.

Toko Jamu Babah Kuya (Sumber :Exploresunda.com )

Berdiri sejak 1800-an toko yang menyediakan ratusan rempah dan jamu hingga kini mampu bertahan melawan arus modernisasi. Ditengah kepungan ragam obat farmasi dalam maupun luar negeri, toko ini tetap setia menyediakan beraneka ragam herba secara komplet. Ada herba yang tergolong langka dan hampir punah, ada juga yang merupakan penemuan baru. Contohnya adalah daun kikolot, daun murbai, jamur kayu, red papua, kulabet, antehai, cabai jawa, sambiloto, jahe merah. Sebagian besar bahan rempah dan herba ini dijual sudah dalam keadaan kering atau digiling

Begitu memasuki toko, aroma rempah-rempah sudah menggelitik dan menyergap hidung. Puluhan tong dan toples ukuran besar berisi rempah menghiasi toko. Pengunjung yang kebingungan memilih jenis jamu yang cocok pun tak perlu kwatir. Sang pemilik, Iwan Setiadi dan para pegawainya siap memberikan konsultasi agar pengunjung bisa mendapatkan obat yang sesuai, lengkap dengan cara penyajiannya. Jadi jika anda bingung tentang obat bagi penyakit yang diderita, tinggal tanya dan konsultasi saja.

Toko jamu Babah Kuya terletak di jalan Pasar Selatan no. 33 Pasar Kota Bandung. Sebagai referensi dalam meracik obat tradisional, sang pemilik mengumpulkan berbagai buku referensi  mengenai rempah-rempah mulai dari Belanda, Korea, hingga ke negeri Cina. Oleh karena itu semua jamu yang dijajakan di toko ini sudah tercantum dalam buku referensi yang menerangkan khasiatnya. Aktifitas jual-beli rempah terlihat ramai dengan pelanggan yang kadang mengantre untuk memesan jamu. Pelangganya pun tidak saja dari dalam negeri, bahkan sampai luar negeri seperti Belanda dan keturunan Cina.

Hingga kini, Toko Jamu Babah Kuya sudah beralih dalam empat generasi. Tahun 1910 toko ini didirikan Tan Sioe How di jalan Pasar Barat. Namun, referensi lainnya menyebutkan bahwa kemungkinan toko ini sudah berdiri lebih awal yaitu 1800-an. Tan bersama dengan keluarga Achsan merupakan peritis usaha perdagangan dikawasan ini.


Sumber : Pikiran Rakyat.

30 September 2014

Taman Film Bandung

Walikota Bandung Ridwan Kamil sangat nyaah terhadap warganya, setelah membuat berbagai taman dengan tema tertentu kini warga Bandung akan bertambah kebahagiaannya dengan diresmikannya Taman Film pada minggu 14 Setember 2014. Walau sudah hampir dua minggu dibuka, penulis baru berkesempatan mengunjunginya pada saat perayaan ulang tahun Bandung sabtu lalu.

Suasana Taman Film di malam hari

Penulis datang pada malam hari jadi kurang jelas mengamati kondisi sekeliling taman tersebut, tapi berdasarkan pencarian di Google taman film mempunyai desain seperti bentuk sawah berteras lengkap dengan aluran airnya. Tempat duduk terdiri dari 7 tingkat yang mempunyai ukuran dan lingkaran yang berbeda. Dengan total luas 1.100 meter persegi, kapasitas Taman ini dapat menampung hingga 250 orang sekaligus. Terdapat sebuah layar besar megatron berukuran 4 x 8 meter.

Taman Film yang terletak di kolong Jembatan Pasteur-Surapati (Pasupati), Jalan Kebon Bibit, Kota Bandung ini memutarkan film dari jam pagi hingga menjelang tengah malam. Saat penulis kesana banyak pengunjung yang sedang menikmati film bersama teman, keluarga atau pasangannya, sedangkan di bagian bawah yang terdapat rumput sintetis banyak anak-anak yang bermain sambil berlari-lari nampaknya mereka merupakan warga sekitar taman.

Taman Film menjadi salah satu tempat baru favorit untuk menghabiskan waktu sambil menonton film yang mungkin dulu terlewat untuk disaksikan di bioskop.

25 September 2014

Selamat ulang tahun ke 204 Bandung

Tak terasa kota yang telah di tinggali penulis kini sudah bertambah usianya menjadi 204 tahun, banyak kenangan dan cerita tersimpan di ibu kota provinsi Jawa Barat ini. Bandung, kota yang dahulu dijuluki Parisj van Java kini mulai berbenah di tangan walikota Ridwan Kamil. Banyak program-program yang diluncurkan untuk bisa menata kembali suasana kota agar nyaman dan layak disebut sebagai Paris nya pulau Jawa.





Sayang semua program dan keinginan walikota untuk membenahi kota Bandung kadang tidak didukung oleh warganya sendiri, banyak program yang hanya ramai pada saat peluncurannya saja tetapi selang beberapa bulan kemudian hilang tak berbekas dan tidak dilanjutan. Harapan penulis sebagai warga tentu berharap seluruh pihak bisa saling gotong royong membenahi kota tercinta ini agar bisa nyaman dan tentram untuk ditinggali.

Selamat ulang tahun Bandung . . .

22 September 2014

Sentra jins Cihampelas

Salah satu sentra jins yang masih bertahan di Kota Bandung berada di jalan Cihampelas. Sebelumnya sentra jins ada juga dijalan Abdulrahman Saleh, jalan Pajajaran dan jalan Thamim. Tumbuhnya kawasan Cihampelas sepanjang 140 meter ke arah jembatan Cikapayang sebagai sentra jins dimulai pada 1987. Saat itu, seorang pengusaha mencoba mendirikan toko jins dan mendapat respon yang baik kemudian diikuti oleh sejumlah pengusaha lainnya.


Kawasan Cihampelas

Kawasan ini dulu diperuntukkan sebagai pemukiman orang Eropa di Bandung. Nama Cihampelas sendiri berasal dari kata ci yang berarti air dan Hampelas dari pohon yang tumbuh disisi sungai, dengan daun kasar laiknya kertas gosok ampelas.

Pada 1933, kolonial Belanda membuka Textiel Inrichtieng Bandoeng atau Institut Teknologi Tekstil yang kemudian membuat kota ini menjadi kota produk tekstil. Pada tahun 1980-an saat pemakaian produk jins di dunia berkembang, Bandung ikut memperkenalkannya dan mampu  produk sendiri. Bahkan kini merek jins Kota Bandung seperti Cardinal mampu memenuhi ekspor untuk pasar Amerika, Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Rumah-rumah gaya Belanda di kawasan Cihampelas lalu berganti menjadi deretan toko-toko yang memajang produk jins. Namun saat ini peran sentra jins mulai bergeser menjadi pusat fashion secara umum. Hal ini ditandai dengan munculnya factory outlet dan toko pakaian lain dengan merk dalam maupun luar negeri. Bahkan pada tahun 2004 muncul mal Cihampelas Walk (Ciwalk).

Perkembangan jalan Cihampelas sebagai pusat fashion memang bertahan tetapi sebagai sentra jins tidak lagi seramai dulu. Kalau dulu hampir semua toko menajajakn produk jins, kini selain factory outlet, toko kaus, tas, cendera mata, toko oleh-oleh, restoran, hotel, kafe dan berbagai kantor layanan jasa.Keadaan jalan Cihampelas semakin tidak tertata dimana banyak pedagang kaki lima banyak memanfaatkan trotoar untuk berjualan dan terbatasnya lahan parkir membuat kawasan ini sering terjadi macet terutama pada hari libur. Salah satu ciri khas kawasan sentra jins ini adalah patung-patung raksasa yang menghiasi bagian depan toko yang disesuaikan dengan nama toko tersebut. Pemilik toko menampilkan tokoh-tokoh super hero dari komik, film dan keunikan desain lain untuk membuat perbedaan dan menarik konsumen.Jins Cihampelas boleh dikatakan hasil karya anak bangsa, karena lebih banyak menjual jins dengan merk lokal seperti merk Korek api, Cardinal atau turunan jins yaitu Denim. Soal kualitas dan harga berdaing dengan produk dari luar negeri, selain toko dikawasan ini tersedia jasa pemotogan atau permak jins. Salin murah, proses pemotongan bisa ditunggu 1 sampai 2 jam dan kita bisa berjalan-jalan terlebih dahulu menikmati jalan Cihampelas sambil menunggu pengerjaannya. Ada juga toko yang menawarkan jasa penjahitan jins berdasarkan keinginan konsumen.

Sumber foto : adikrose.blogspot.com
Pikiran rakyat

14 Agustus 2014

Bentuk uang baru NKRI

Bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2014 nanti, Bank Indonesia berencana mengeluarkan uang rupiah baru dengan nama uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai awalan, Bank Indonesia (BI) menerbitkan uang NKRI dalam pecahan Rp 100.000. Dibandingkan dengan yang beredar sekarang, tidak banyak perubahan.

Hal yang berbeda dalam uang NKRI pecahan Rp 100.000 ini adalah adanya frase 'Negara Kesatuan Republik Indonesia'. Lalu ada tanda tangan menteri keuangan.

Demikian disarikan dari bahan sosialisasi uang NKRI yang dilakukan oleh BI, Kamis (14/8/2014).

Uang NKRI akan beredar mulai 17 Agustus dan bisa langsung didapatkan oleh masyarakat melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Berikut ini tampilan uang NKRI tersebut

Uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)   

Sumber :  http://finance.detik.com

2 Juli 2014

Mengenal sejarah kawasan Punclut

Sejak tahun 1990-an kawasan Punclut telah menjadi salah satu tempat berolahraga bagi warga Bandung. Setiap sabtu dan minggu pagi, jalan selebar empat meter tersebut disesaki oleh orang-orang yang berjalan kaki, bersepeda atau berlari. Ada juga pasar dadakan ditepian jalan, menjadikannya pusat keramaian di wilayah utara Bandung.

Nama Punclut diperkirakan merupakan kependekan dari Puncak Ciumbuleuit Utara. Hal ini berdasarkan pada lokasi nya yang berada di ujung jalan Ciumbuleuit yang berjarak 7 km dari pusat kota. Topografinya berbukit dan berada pada ketinggian 850 - 1000 m dpl. Tak hanya dari Ciumbuleuit, Punclut juga dapat diakses dari Lembang dan Dago bahkan kini pengunjungnya datang dari luar Bandung.

Selain tempat berolahraga, Punclut dikenal sebagai kawasan kuliner dan agrowisata. Potensi ini lalu menjadikan pemerintah setempat berinisiatif melakukan pelebaran dan pengaspalan jalan pada tahun 2011 untuk mempermudah akses masuknya kendaraan. Tiga tahun terakhir makin banyak tempat makan atau cafe bermunculan. Pada hari-hari biasa, pengunjung lebih senang makan di saung lesehan dan menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Terlihat pegunungan Malabar, Patuha dan Waringin di bagian selatan Bandung.

Pada jaman penjajahan Belanda, Punclut adalah kawasan erfpacht yaitu lahan milik negara yang disewakan pada pengusaha perkebunan. Kemudian pada 1961, melalui surat Menteri Agraria, pemerintah memberikan hak milik tanah tersebut kepada 948 pejuang kemerdekaan sebagai bentuk perhatian negara. Lahan yang semula akan dijadikan pemukiman justru dimanfaatkan warga sebagai tanah garapan pertanian karena pemerintah tidak memiliki anggaran untuk membangun prasarana pendukung perumahan.

Tahun 1982, Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi melalui surat keputusannya melarang pembangunan dikawasan Punclut karena merupakan wilayah inti Bandung Raya bagian utara yang berfungsi sebagai resapan air. Akhirnya pada tahun 1997, Menteri Agraria kembali mengambil alih hak milik lahan Punclut. Tahun 2001 muncul rencana bahwa kawasan ini akan dijadikan area konservasi dan kawasan wisata terpadu yang tetap mempertahankan potensi ekologisnya. Akan tetapi, rencana tersebut mengundang pro dan kontra sehingga tidak jadi dilakukan. Punclut sempat dikabarkan diburu pengembang untuk dibangun perumahan, hotel dan bangunan komersil lainnya.

Melalui Perda Kota Bandung nomor 2 tahun 2004 tentang tata ruang kota, sebenarnya pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Punclut sebagai kawasan hutan lindung. Namun setahun kemudian justru pembangunan makin marak. Kini Punclut tidak sesejuk dulu, banyak lahan terbuka dan bangunan yang berjejer sepanjang jalan, kondisi tersebut tentu tidak mencerminkan statusnya sebagai paru-paru kota.

Lokasi : Kelurahan Ciumbuleuit, kecamatan Cidadap Kota Bandung
Luas lahan : + 286 ha
Titik keramaian : Mulai RSAU Salamun sampai Lembang

sumber : Pikiran Rakyat